Tampilkan postingan dengan label Realita Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Realita Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juli 2012

Realitas Para Sarjana Sekarang



Bersyukur sekali jika kita masih di berikan Allah SWT alat pendengaran yang masih berfungsi dengan baik karena setiap detiknya kita bisa mendapatkan informasi secara gratis. Asalkan kita mau mendengarkan telah dapat dipastikan bahwa kita akan mendapatkan informasi sebab Mendengar merupakan salah satu cara untuk memperoleh informasi yang bermanfaat.

Seperti pagi ini saat di perjalanan di BUS, kebetulan saya duduk bersebelahan dengan seorang Bapak tua umurnya 65 Tahun, pensiunan PNS, mempunyai anak 3 yang semua telah mengikuti jejaknya sebagai PNS. Dengan umurnya tersebut sangat banyak pengalaman yang telah dia lalui, pahit manis kehidupan telah dia rasakan. Dalam perjalanan sekitar 1 jam tersebut banyak sekali informasi yang saya dapatkan dari dirinya. Yang pasti sangat bermanfaat sekali.

Dalam perjalanan bapak itu bercerita bagaimana sulitnya dia mengubah mainset anak-anaknya agar tidak mengikuti jejaknya untuk menjadi PNS. Menurutnya setelah menamatkan kuliah sebaiknya mereka jangan hanya berorientasi untuk mengejar lulus menjadi PNS. Dia menginginkan anaknya bekerja di sektor swasta atau membuka usaha yang produktif. Karena hanya dengan cara berwiraswasta akan dapat membantu negara ini untuk mengatasi penggangguran. Namun anak-anaknya masih ingin menjadi PNS dengan alasan kepastian jaminan hidup.



Penomena ini menurutnya tidak hanya dialami oleh anak-anaknya tapi telah dialami oleh oleh sebagian besar lulusan sekolah atau kuliah. Hal ini terbukti dengan berjubelnya para pelamar yang mengikuti tes CPNS. Menurutnya kesalahannya terletak pada sistem pendidikan dan budaya masyarakat kita. Hal ini telah dirasakannya secara pribadi. Sebagai seorang yang pernah ngantor di Dinas Pendidikan Nasional, pernah memegang jabatan, serta pernah menjadi Tutor/Pelatih tenaga terampil berwiraswasta bagi Sekolah Menengah Kejuruan. Menurutnya siswa SMK yang telah di isi oleh keterampilan dan kemampuan berwiraswasta saja setelah menyelesaikan sekolah tidak serta merta akan menjadi Pengusaha. Mereka pasti akan mencari pekerjaan atau melamar CPNS. Sebab telah menjadi mainset di masyarakat bahwa tidak akan sukses sebuah keluarga apabila anaknya belum ada yang menjadi PNS/ Pejabat Pemerintah.

Menurutnya yang sangat menopang perekonomian sebuah bangsa itu adalah pengusaha, serta yang menentukan masa depan bangsa adalah banyaknya masyarakat yang mempunyai mental wiraswasta bukannya banyak yang bermental pegawai. Memang terakhir ini gejala-gejala ini telah disadari oleh pemerintah oleh sebab itu akhir-akhir ini banyak program pemerintah yang mendorong agar munculnya wiraswasta-wiraswasta muda yang akan menjadi bibit-bibit pengusaha yag produktif. Terakhir dia berpesan mulailah untuk membuka usaha. Mulailah dari usaha yang sederhana untuk tahap pembelajaran. Karena prinsip terjun membuka usaha adalah berani belajar dari pengalaman.

Terakhir..saya bilang pada beliau Insya Allah tolong doanya pak.. saya akan membuka usaha. Mari berwiraswasta.


sumber : http://dediksaidina.blogdetik.com/2012/08/09/hasil-mendengar-dari-bapak-pensiunan/


Miris! Kisah Anak-Anak Indonesia di Perbatasan



Siapa yang tidak mengenal Jakarta ? Semua orang Indonesia tahu itulah Ibukota Negara Indonesia. Ibukota yang kian memanas dengan perebutan kursi DKI 1. Namun itu tidak selamanya berlaku, jangan coba-coba bertanya di mana letak Jakarta yang menjadi Ibu kota Negara Indonesia kepada anak-anak Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia yang orangtuanya bekerja di sektor perkebunan. Sudah pasti dengan kepolosan mereka akan menjawab tidak tahu. Maklum saja di Tawau, yang hanya berjarak 30 menit dari Pulau Sebatik, Nunukan, Kaltim, SD tempat mereka sekolah ternyata tidak memiliki peta Indonesia. Bahkan lebih parah lagi, anak-anak SD Indonesia ini dalam setiap upacara lebih dulu menyanyikan lagu kebangsaan Malaysia, kemudian Negara Bagian Sabah, baru giliran menyanyikan lagu Indonesia Raya. (Kita perlu menarik nafas panjang setelah membaca kalimat tersebut. Seandainya WR Supratman sebagai pencipta lagu Indonesia Raya masih hidup akan tertunduk lesu mengetahui kabar ini).

Adalah Ir. Hetifah Sj. Siswanda, MPP, PhD, anggota Komisi X Dapil Kalimantan Timur menceritakan hasil resesnya selama tiga hari ke perbatasan Kaltim-Malaysia. Beliau bercerita hampir meneteskan air mata, tatkala berbicara memakai bahasa Indonesia, mereka belum merespon secara baik, tetapi ketika dijelaskan memakai bahasa Melayu oleh guru asal Malaysia barulah mereka memahaminya.

Lancarnya mereka berbahasa Melayu bukan karena keseringan nonton serial Ipin & Upin di salah satu stasiun televisi Indonesia atau televisi Malaysia. Namun, lebih karena guru Malaysia lebih dominan memberikan pelajaran dibandingkan guru Indonesia yang diperbantukan. Lalu kemana guru-guru asal Indonesia ? Pada kenyataanya peran guru-guru PNS dari Indonesia yang diperbantukan tidak berjalan maksimal. Pada tahun 2006-2009 sebanyak 109 orang, 2009-2011 juga berjumlah 109 dengan pola kontrak 3 tahun. Sedangkan 2011-2014 ini malah belum ada. Berdasarkan pengakuan di lapangan, guru-guru kita kurang gigih memberikan pengajaran dan pengaruh kepada anak-anak Indonesia.

Permasalahan dalam konteks ini tidak hanya sebatas hak pendidikan anak-anak TKI yang terabaikan. Tidak sebatas cerita pilu tentang Lagu Indonesia Raya yang dinomortigakan saat upacara. Tidak juga sebatas mahirnya mereka berbahasa Melayu dan terbengong-bengong saat ditanya dengan bahasa Indonesia. Atau cerita pilu para pejabat yang miris melihat dengan mata kepala sendiri anak-anak Indonesia di perbatasan.



Kondisi seperti itu, sudah sangat menggambarkan jiwa anak-anak TKI di perbatasan yang bukan lagi Indonesia namun Malaysia. Perlunya pemahaman dan penguasaan bahasa Indonesia pada anak-anak itu, tidak sedangkal agar mampu menjawab pertanyaan para pejabat Indonesia atau bahkan Presiden kita saat melakukan aksi kunjungan perbatasan. Atau bahkan mengantisipasi tangis presiden kita SBY, yang sangat sensitif itu. Bisa-bisa beliau berderai air mata saat melontarkan pertanyaan dalam bahasa Indonesia “Tahukah Adik-adik siapa Saya. Saya adalah presiden kalian, Presiden Indonesia. Ada yang tahu nama Saya?”. Sedang anak-anak itu terbengong-bengong saja.

Kita semua tahu “bahasa Indonesia bahasa persatuan bangsa Indonesia”. Bahasa Indonesia menyatukan seluruh bangsa Indonesia yang beraneka ragam dalam kerangka Negara Kesatuan Indonesia. Menyatukan hati dan jiwa para anak negeri dalam satu nafas Indonesia. Kita tidak bisa menuntut agar anak-anak TKI di perbatasan Indonesia-Malaysia agar mencintai bahasa Indonesia, sedang mereka tidak mendapatkan hak pendidikan layaknya anak Indonesia lainnya. Kita tidak bisa menuntut mereka untuk mahir berbahasa Indonesia sedang tiap hari mereka disuapi bahasa Melayu oleh guru-guru Malaysia. Kita tidak bisa menuntut mereka mencintai Indonesia sedang Malaysia lebih memperhatikan mereka dan Indonesia sebatas mengunjungi bahkan mengabaikannya.

Inilah sebenarnya Balada Siswa SD anak-anak TKI di Perbatasan Indonesia-Malaysia. Balada anak negeri di perbatasan Indonesia-Malaysia tidak pernah cukup diceritakan dalam artikel atau gambar film Tanah Surga, Katanya. Ini adalah kisah pilu yang melengkapi bergunung derita warga Indonesia yang tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia. Kita tentu tidak rela anak-anak bangsa lebih mencintai bahasa Melayu. Kita tentu tidak rela mereka justru lebih mengenal baik bendera Malaysia dan bendera Negara Bagian Sabah daripada bendera Indonesia.

Namun kita terpaksa harus merelakan itu semua, karena balada ini benar adanya.


sumber : http://bahasa.kompasiana.com/2012/09/08/indonesia-darahku-melayu-bahasaku/

Ini Kisah Tentang Kejamnya Jakarta



Saya besar dan lahir di Jakarta. Ibukota yang menjadi tumpuan banyak orang mengadu peruntungan nasibnya. Banyak orang bilang ibukota sangat kejam. Ia akan melibas siapapun yang tak punya cukup nyali dan mental yang tangguh. Kriminalitas dimana-mana. Berjalan kaki, naik mobil, naik motor, tak ada bedanya, tak ada jaminan bisa selamat. Semua punya peluang menjadi korban. Entah itu korban kejahatan dari pelaku kriminal atau korban kecelakaan akibat ketidakdisiplinan.

Tanpa saya nyana, saya mengalami tindak kriminal yang cukup menyiutkan nyali di kota tempat saya dilahirkan ini. Kali ini saya alami bersama suami saya. Kisahnya bermula saat kami dulu memulai wirausaha menjadi agen sembako minyak goreng dan beras. Kami membeli minyak goreng langsung di depo di wilayah Tanjung Priok.

Suatu hari, kami baru menambah pegawai yang bekerja ditempat kami. Seorang pria yang baru saja datang dari kampung. Jadi dia belum terlalu kenal medannya Jakarta. Dia hanya kami kenalkan dengan rute perjalanan menuju depo langganan kami. Diluar itu dia tak cukup mengenal jalan di Jakarta. Pergilah pegawai kami ini membeli minyak goreng ke depo di Tanjung Priok. Namun belum sampai setengah perjalanan mobil pick up pengangkut minyak mogok akibat ban bocor di daerah Pancoran. Akhirnya pegawai kami meminggirkan mobil. Saat mencari bantuan untuk membetulkan ban mobil, tiba-tiba pegawai kami di datangi oleh orang-orang bertampang seram membawa derek mobil liar. Seketika tanpa basa basi, mobil kami didereknya dan membawa paksa pegawai kami naik ke atas mobil dereknya. Pegawai kami yang memang orang daerah dan masih sangat lugu ini tak bisa mencegah, karena memang ia tak mengerti apapun. Bahkan bahasa Indonesianya saja masih kental dengan logat daerahnya.

Untuk diketahui, orang-orang pembawa derek liar ini, gaya dan lakunya lebih mirip preman, nampak dari wajah mereka yang seram seolah ingin menghabisi siapapun yang berani menentangnya.

Mobil kamipun dibawa mereka ke pool derek mereka yakni di daerah Cawang. Suami sayapun dihubungi oleh pegawai kami melalui telepon umum, karena waktu itu handphone masih sangat jarang dipergunakan. Kejadian ini terjadi sekitar tahun 1998. Segera suami saya mendatangi pool derek yang dimaksud. Sampai saat ditelpon saya dan suami masih belum menyadari kalau kami sedang dalam ancaman menjadi korban kejahatan. Karena di ujung telepon, pegawai kami tak menceritakan kejadiannya secara detil. Mungkin karena di bawah ancaman dan tekanan kelompok itu. Jadi saat itu kami masih menyangka pegawai kami di tolong petugas derek resmi yang kebetulan sedang beroperasi di jalan.

Suami sayapun mendatangi alamat derek yang disebutkan. Sungguh kaget saat sampai disana, suami saya dikelilingi kelompok ini dibawah ancaman mereka. Mereka memaksa meminta sejumlah uang. Memaksa suami saya menyerahkan ATM kalau tak ingin kendaraan kami dihancurkan. Waktu itu posisi mobil kami sudah berada dibawah mesin penghancur yang setiap saat bisa mereka turunkan untuk meringsek mobil kami hingga remuk. Suami sayapun bingung dibuatnya. Mobil itu adalah satu-satunya harta kami mencari nafkah. Tak mungkin suami saya bisa merelakannya. Mereka meminta uang sampai senilai 5 juta rupiah. Namun uang di ATM kami tak banyak. Uang kami banyak berputar di luar untuk menambah modal usaha.

Di bawah ancaman mereka, suami sayapun digiring ke ATM. Ternyata uang di ATM hanya bersisa 500 ribu rupiah. Mereka tampak kesal. Dan suami sayapun bernegosiasi alot dengan mereka. Akhirnya dengan sangat marah dan meracau mereka meminta semua uang di ATM itu. Benar-benar habis. Tersisa hanya untuk saldo minimum. Tak terbayang bila di ATM kami tersimpan banyak uang. Pastilah akan habis semua harta kami. Akhirnya Alhamdulillah, meski harus kehilangan uang, mobil bisa kami dapatkan kembali. Dan pegawai sayapun pulang tanpa mereka lukai. Kami tetap bersyukur tak sampai ada yang menjadi korban fisik. Perkara uang tak lagi kami khawatirkan. Rejeki masih bisa kami cari.

Sejujurnya itulah masa terkelam dari jatuh bangunnya usaha kami. Saat itu kami merasa menjadi pecundang. Inginnya melawan. Namun rasanya melawan dalam keadaan seperti itu hanya akan membuat suami saya mati konyol. Karena mereka bisa saja menyimpan senjata dan jumlah merekapun lebih banyak. Selain itu ada kepentingan yang lebih besar untuk dipikirkan, yakni keberlangsungan usaha kami.

Kami yang warga Jakarta diperas di kampung kami sendiri tanpa punya kesempatan sedikitpun untuk melawan. ATM kami dikuras tanpa ampun saat kami baru saja memulai merintis usaha. Bayangkan orang Jakarta diperdaya gerombolan pendatang di Jakarta! Adakah yang lebih mengenaskan…

Namun kejadian ini tak menyurutkan langkah kami. Semua adalah pelajaran berharga yang membuat kami justru semakin survive menghadapi tantangan. Terutama tantangan di kerasnya persaingan dunia usaha.

Dari pengalaman ini, saya berani katakan Jakarta memang sangat kejam bagi mereka yang tak cukup punya mental baja. Bersaing mengadu nasib di Jakarta sangat penuh dengan tekanan. Perlu tahan banting menaklukkannya. Saya menjadi saksi untuk hal ini. Sudah merasakan sendiri perihnya diperdaya di tanah kelahiran dimana saya dibesarkan. Mungkin bila di survey sudah begitu banyak orang menyerah hidup di Jakarta dan kembali ke kampung halamannya. Meski masih banyak pula yang bisa bertahan. Dan mungkin pula tak semua orang mengalaminya. Namun tak ada salahnya menjadi peringatan bagi siapapun untuk waspada.

Karenanya, jangan pernah anda mengeluh menghadapi kerasnya kehidupan ibukota. Masih ingatkah anda dengan ungkapan sekejam-kejam ibu tiri masih lebih kejam ibukota? Begitulah.. Jakarta memang tak ramah terlebih bagi mereka orang kecil dan kaum papa…


sumber : http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2012/05/21/ini-kisah-tentang-kejamnya-jakarta/


Cerita Nestapa Anak-anak Jermal di Selat Malaka



Setiap kali melihat atau makan ikan teri nasi atau ikan teri medan yg terkenal enak itu, saya selalu teringat nasib anak2 buruh jermal, Ikan teri medan itu terkenal dan harganya mahal. Sekitar 150-200 ribu/ kg. Ikan teri itu diperoleh dari hasil tangkapan di selat malaka, Tapi tahukah kita bahwa dibalik kenikmatan ikan teri itu ada sejuta keperihan dan penderitaan para anak2 yg dipaksa jd buruh jermal

Jermal itu adalah rumah panggung kecil atau gubuk yg yg dibangun di atas laut sepanjang selat malaka. Ada ribuan dari aceh sampai sumsel, Jermal2 itu berfungsi sebagai tempat penangkapan sekaligus pengumpul ikan teri. Disana juga ikan teri itu dijemur dan dikeringkan secara berkala, 2 minggu atau 1 bulan sekali akan ada petugas yg datang mengambil ikan teri& sekaligus menyuplai bahan makanan ke jermal

Jermal itu terletak jauh di tengah laut. Belasan kilometer dari pantai timur sumatera. Jarak antara jermal juga berjauhan. Tak ada akses. Jermal2 itu juga dibangun jauh di luar jalur lalu lintas pelayaran kapal sehingga tak akan ada kapal yg melintas di dekatnya. Jermal2 itu dimiliki para tauke/ tekong yg tinggal di daratan. Anak2 buruh yg diperbudak di jermal2 itu tdk pernah tau siapa tekong2 itu

Bgmn anak2 itu bisa sampai di jermal dan kemudian diperbudak disana selama bertahun2? Kisahnya sangat menyedihkan hati. Mayoritas anak2 jermal yg diperbudak itu adalah korban penipuan atau penculikan atau pemaksaan. Umumnya mereka dari daratan sumatera. Banyak anak2 kecil yg jd jadi gelandangan di kota2 di sumatera dibujuk dan diiming2i bekerja oleh para penyuplai buruh jermal, Banyak juga anak2 dari desa2 kecil pedalaman atau dari dusun2 di perkebunan negara yg diambil dr org tuanya dgn janji dijadikan pembantu

Umumnya mereka dijanjikan bekerja sbg pembantu rumah tangga, kedai, restoran, warung2, toko2, pabrik dst. Tapi itu hanya tipu daya Setelah anak2 terpisah dari keluarganya& itu dikuasai para agen penyuplai, anak2 itu kemudian dibawa ke tengah laut utk kerja di jermal. Sekali anak2 itu sampai di jermal maka mereka akan habiskan waktu mereka belasan tahun hidup terkucil diperbudak sbg buruh jermal

Sebagian dari mereka tidak tahan hidup tersiksa di jermal dan coba melarikan diri. Umumnya mereka mati tenggelam di tengah laut malaka. Para nelayan tidak berani mendekati jermal2 tsb karena tau bhw siapa saja yg berani mendekat akan diusir bahkan dipukuli oleh mandor2. Mandor2 tekong atau centeng2 jermal ini terkenal bengis dan tak segan2 membunuh siapa saja yg berani ikut campur atau mengusik jermal
TNI AL, Polisi Airud dan aparat keamanan lain semua “tutup mata” dgn praltek perbudakan buruh anak di jermal karena terima upeti tekong

Pada tahun 90-92 ada 2 lembaga yg menyelidiki nasib anak2 buruh jermal, yaitu HMI sumatera Utara dan Lembaga Advokasi Anak Indonesia. HMI sumatera Utara di bawah pimpinan Muzakhir Rida (skrg aktivis PPP) dan LAAI di bawah pimpinan Mayasak Johan (skrg DPR RI kom XI). Mereka melakukan investigasi dan hasil investigasi itu dimuat di media massa. Mereka juga mengajukan gugatan perdata dan pidana
Kepada pemerintah RI yg telah dengan sengaja membiarkan tindak pidana/ kejahatan kemanusian terhadap para anak2 indonesia yg diperbudak. Mulai dari Presiden RI, Panglima ABRI, KASAL, panglima armada barat, kolinlamil, Pangkowilhan, Pangdam, Polisi Air dan Udara dst..

Akibat publikasi dan tuntutan HMI sumut dan LAAI itu, publik geger…regim suharto marah besar. HMI dan LAAI diteror habis2an, Para aktivis HMI dan Aktivis LAAI sering diancam pembunuhan oleh oknum2 aparat ABRI. Tp gugatan di pengadilan jalan terus, tak berhenti. Akhirnya atas prakarsa majelis hakim, HMI sumut dan LAAI dipaksa berdamai dgn pemerintah. HMI dan LAAI setuju damai asal pemerintah ..

Serius menghapus perbudakan sekitar 16.000 anak2 di jermal2 sepanjang selat malaka. Pemerintah nyatakan kesediaannya. Damai. Sejak itu jermal2 yg perbudak anak2 dirazia besar2an..sempat hilang dan atak ada lagi perbudakan selama bbrp tahun. Setelah itu ada lagi. HMI sumut dan LAAI awalnya selalu awasi kesepakatan dgn pemerintah RI. Tapi lama kelamaan, kasus perbudakan anak2 di jermal2 itu senyap
Apakah skrg masih terjadi perbudakan anak2 di jermal2 sepanjang selat malaka? Masih. Seorg wartawan metro tv pernah sampaikan hal itu

Jika kita sebagai rakyat merdeka yg peduli dgn nasib anak2 yg tertindas, sekali waktu tentu kita ingin tahu fakta yg sesungguhnya..

Smga pemerintah, DPR, TNI AL, Polri, LSM, pers dst..tetap peduli mengawasi praktek perbudakan anak2 itu..apakah mereka masih ada disana?

Sekian dan terima kasih telah menyiap kultwit singkat tentang perbudakan buruh anak jermal di sepanjang selat malaka


sumber : http://twitter.com/TrioMacan2000/status/176115661737705474


Kisah Negeri yang Dijajah Bangsanya Sendiri



Saya beruntung mendapatkan kesempatan bepergian keliling Indonesia. Dari sekian banyak daerah yg pernah saya kunjungi, pulau timor belum. Saya jg blm pernah kunjungi Bengkulu& provinsi lain seperti maluku utara. Hampir semua daerah yg saya kunjungi kondisinya memprihatinkan. Kota2 di luar jawa, utamanya di indonesia timur jauh dari apa yg saya bayangkan sebelumnya. Ibukota propinsi saja banyak yg tertinggal

Rata2 kota besar di indonesia timur seperti kota kecamatan di p. jawa. Bahkan adakalanya kota itu hny terdiri dari beberapa jalan protokol. Apalagi jika masuk lebih ke pedalaman. Kadang2 saya sampai bengong dan menangis dalam hati. Kok bisa 60 tahun merdeka masih begini?. Di kalimantan..di sebuah kabupaten, saya lupa namanya, ada sebuah tambang batubara raksasa..tp anak2 sekitarnya sekolah dgn telanjang kaki

Saya selalu bertanya, kemana uang hasil tambang itu? Kenapa masyarakat sekitarnya sangat miskin? Kenapa SDA yg berlimpah tdk bawa kemakmuran. Kalimantan, sulawesi, papua dan hampir seluruh pulau di indonesia timur sangat kaya SDA mineral. Banyak pertambangan..kok rakyatnya miskin?. Sementara para bupati2 di indonesia timur itu semuanya kaya raya. Setiap minggu ada di jakarta, makassar, surabaya, bali atau ke luar negeri

Apa yg salah dengan republik ini? Kenapa SDA yg melimpah tidak membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya? Apakah ini kutukan? Padahal, jika pemdanya serius dan amanah, kayaknya tidaklah sulit utk sejahterakan penduduknya yang tidak banyak itu. Di sisi lain, sy juga melihat begitu banyak PETI alias penambang liar. Sy sempat lihat kab Bombana di sultra..luar biasa penambangan emasnya

Penambang2 liar itu biasanya dicukongi oleh para pengusaha, pejabat sipil dan militer atau polisi...pajaknya ga jelas kemana. Di Papua, saya pernah masuk sampai ke pedalaman arso IV. Sepanjang jalan saya melihat truck2 raksasa muatan kayu hilir mudik. Di soroako dan pomala saya lebih takjub lagi..saya melihat tanah air kita dijual dan diekspor dlm arti sebenarnya..tanah& air dikapalkan



Saya sempat tanya sama kuasa direksi PT. Antam..kemana tanah air kita yg dikapalkan itu dibawa? Diekspor langsung katanya..itu ORE. Pabrik pengolahan milik Antam ga mampu utk produksi begotu banyak ore menjadi nikel. Jadi utk praktisnya, sbgn langsung saja diekspor. Kita, RI ini benar2 ekspor tanah air kita keluar negeri. Luar biasa ! Sayangnya hasilnya tidak dirasakan oleh rakyat RI.

Di timika, saya masuk dengan terlebih dulu disuntik vaksin malaria. Saya golf di sana dengan ditemani burung cendrawasih di sekitar lap golf. Di Pulau G atau pulau gebe, maluku utara kalau ga salah lain lagi ceritanya..pulau yg mengandung nikel itu sdh habis terkuras kekayaannya. Di pulau itu hanya tersisa bekas alat2 pertambangan yg telah menjadi besi tua. Penghuni pulau itu tetap miskin merana

Di soroaku, selain ada PT. Antam, ada juga PT. INCO yg raksasa itu. Saya ga tahu apa kontribusinya bagi kesejahteraan warga soroako. Intinya, RI ini kaya sumber daya alamnya tapi tak jelas kontribusinya bagi kesejahteraan rakyat apalagi pada warga sekitarnya. BUMN2 pengelola SDA kita terkenal tidak efisien dan korup. PTPN contohnya. Punya lahan sawit 6 x lahan PT AAL tapi labanyanya lebih kecil.

Jgn kita bicara soal batubara, lihat saja perbandingan KPC dengan PT. Bukit Asam. Demikian seterusnya..miriiiis. Sebab itu saya kaget bercampur tak percaya ketika baca Kompas jumat kemaren : pemrintah akan terapkan pajak 50% utk eskopr batubara mentah. Sudah saatnya pajak, royalti tambang ditingkatkan semaksimal mungkin utk kesejahteraan rakyat. Bukan pejabat.

Kita mengetahui perusahaan2 tambang selalu punya beking atau melibatkan pejabat polisi dan militer sbg direksi/komisarisnya. Yg paling aneh dan tak masuk akal adalah fakta bhw sampai saat ini pemerintah kita tidak punya data lengkap ttg brpa besar kekayaan alam RI. Rakyat tak pernah tahu berapa milyar dollar kekayaan SDA kita. Kenapa bisa? Apakah sengaja? Utk memudahkan para rampok pesta pora?

Mungkin RI adalah satu2nya negara didunia yg belum ada audit dan invetarisasi kekayaan SDA nya. Disengaja? SBY sebagai presiden RI ga bisa kita harapkan tegas utk selamatkan sumber daya alam kita yg sedang dirampok massal ini. Intinya adalah : rakyat diperdaya oleh penguasa dan pengusaha hitam. Kekayaan alam kita dikuras habis2an, nanti yg tersisa hanya ampasnya



Solusinya adalah kita harus mendesak pemerintah umumkan secara terbuka ttg nilai kekayaan alam kita. Berapa besarnya, terdiri dari apa saja. Kita juga mendesak pemerintah kita, siapa saja yg menguasai SDA kita. Berapa pajak, royalti dan kontrbusinya bagi negara. Jangan seperti skrg ini..semua kita hanya bisa menebak2 dan meraba2. Saya dp info, ARB kuasai 3 milyar ton cad batubara dari total 18 M ton

Apakah solusinya harus separatisme? Daearah2 merdeka? Mumpung SDA masih ada tersisa dan belum habis dirampok jakarta? Coba saja kita bayangkan, betapa akan makmurnya papua..penduduk aslinya yg hanya 1.4 juta mungkin semakmur australia jika merdeka. Sama halnya dengan sulawesi..apa yg ga ada disana? Emas, tembaga, nikel, semen, migas, semua ada..belum lagi hutan dan lautnya..

Demkian juga kalimantan..kaya raya..semua pulau2 luar jawa sangat kaya raya..kenapa jauh tertinggal ..miskin dibandingkan jawa?? Lihat sj NTB..ada newmont disana..laba newmont tambang emas itu 9 triliun per tahun. Kemana uangnya? Jakarta. Utk apa? Belanja pegawai hehe. Dulu ada amin rais yg selalu teriak2 korupsi itu sarangnya diistana. Sekarang dia pikun dan pilek. Ga ada lg tokoh yg kritis tanya SDA kita

Rakuat selama ini hanya dibohongi oleh penguasa..kita semua tahu sbgn besar elit kita sdh bagi2 konsesi tambang kekayaan alam milik rakyat. Mulai dari SBY dan kroninya, ARB, elit DPR, kepala daerah, jenderal2 militer dan polisi, elit DPR..semua kapling tambang SDA kita. Kita harus punya pemimpin bangsa yg berani sita semua konsesi2 tambang yg dikuasi elit2 itu. Kembalikan dikelola oleh negara

Anda mau lihat orang mandi emas? Pergi ke bombana sultra sana..banyak banget tambang emas liar yg dibeking aparat dan setorbke istana. Bagaimana dgn sumatera? Hampir sama dgn sulawesi..apa yg tak ada di sumatera? Semua jenis tambang ada. Perkebunannya terluas sedunia. Tapi apa yg kita dapatkan jika ke sumatera? Jalan lintas tengah, timur dan barat hancur total selama belasan tahun. Rakyat menderita



Bagaimana regim SBY bisa berantas perampok2 sumberdaya alam kita karena regim SBY itu sendiri adalah perampok! Bagaimana kita, rakyat, bisa harapka SBY tegakan hukum? Tangannya kotor..regimnya kotor..mereka takut karena merekalah pelanggar hukumnya. Perkebunan2 di sumatera skrg mayoritas dimiliki asing utamanya malaysia. Kok bisa? Sebagian investor malaysia itu hny kedok. Uangnya dari RI

Perampok2 lainnya rajin setor ke istana sbg upeti agar kejahatan mereka tidak diusik. Inilah penguasa zalim yg KKN dgn pengusaha hitam. Satu2nya cara adalah revolusi. Rakyat yg bertindak dgn hukumnya sendiri. Seret penguasa zalim, korup, munafik dan busuk itu. Gantung! Rakyat jgn percaya dgn tampilan luar dna citra yg ditonjolkan mereka. Wajah mereka mmg kayak malaikat, tapi hatinya lbh hitam drpd batubara

Rakyat harus sadar, perampokan SDA, pajak dst oleh penguasa itu seperti perampok yg masuk ke dapur rumah kita sendiri. Mrka maling bejat. Anda tahu berapa SBY habiskan dana kampanye dan pilpres? Lebih 11 triliun ! Darimana uang itu? Jawab sendiri. Anda tahu kenapa jero watjik yg ga ngerti apa2 dan Fuad rahmany yg lemah diletakan jadi menESDM dan dirjen pajak?

Kita harus kembali ke pasal 33 UUD kita. SDA utk kemakmuran rakyat. Bukan kemakmuran SBY, sudi, hartati, cikeas, istana, ical dst !


sumber : http://twitter.com/TrioMacan2000/status/191195210468962304


Kisah Bocah 10 Tahun yang Menjadi Tukang Tambal Ban Truk



Melihat usianya belumlah pantas jika bocah usia 10 tahun yang masih mungil ini harus membongkar ban sebuah truk untuk ditambal, selain faktor usia faktor kemanusiaanpun rasanya sangatlah kurang pantas, karena seperti halnya bocah seusianya masih harus menuntut pendidikan di sekolah untuk masa depan mereka.




Mungkin nasib Wang Junjie nama bocah itu tidak semujur teman-temannya yang lain, Wang adalah putus sekolah yang diakbibatkan faktor ekonomi dan alasan sekolahnya yang mengeluarkannya karena dinilai hasil akademis pelajaran yang jelek. Dikutip ruanghati.com dari Mail Online menceritakan, bocak cilik yang tinggal di Propinsi Guizhou Cina ini akhirnya bekerja menjadi tukang tambal ban mobil dan truk di bengkel pamannya.



Beberapa waktu silam setelah Wang berhasil mengumpulkan sejumlah uang maka dirinya mencoba kembali untuk mendaftar sekolah, akan tetapi oleh pihal sekolah ditilak mengingat nilai akademis sebelumnya yang sangat jelek. Lha mau pinter ditolak sekolah kapan pinternya guman Wang mungkin demikian. Oh nak kasihan dikau.



Kala bersekolahpun Wang ditempatkan oleh gurunya di barisan belakan sehingga susah melihat papan tulis, mengingat tubuhnya lebih pendek dibanding teman teman sekelasnya. Wang kini tetap meminpikan ingain sekolah dan bisa belajar kembali seperti rekan rekan seusianya. Sebuah cita-cita mulia.

Pulang ke negeri kita, sobat ruanghati.com, agaknya potret Wang di Cina inipun sangat banyak kita jumpai di tanah air kita, karena faktor ekonomi mereka musti membanting tulang untuk menyambung hidup sehingga meninggalkan sekolah, tidak jarang pula mereka bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Lihat di jalan raya, di perempatan lampu trafik light. Di dalam bus dan lain sebagainya.

Anak jalanan di negeri ini


Mari kita berbagi untuk masa depan mereka, karena mereka merupakan masa depan bangsa ini, tapi bagaimana berbagi yang bijak? apakah dengan memberi mereka uang sehingga mereka merasa meminta-minta lebih menghasilkan dari bekerja dan melemahkan mental sehingga mereka malas berusaha. tapi usia mereka kan memang belum pantas untuk bekerja?

Sudah saatnya kita semua peduli dengan masa depan mereka bukan hanya dengan mempolitisasi dan memanfaatkan mereka untuk kepentingan-kepentingan kita. tapi sungguh sungguh tulus mencarikan jalan bagai masa depan mereka.


sumber : http://jogora.blogspot.com/2011/09/menharukan-bocah-10-tahun-yang-menjadi.html


Ironis! Harta Karun Negara Dijual Di Singapura


Hulu pedang emas

Beberapa harta karun yang ditemukan dari bangkai kapal di perairan Cirebon akan dijual ke Singapura. Tapi rupanya, ada beberapa koleksi milik Indonesia yang juga ikut dijual, seperti arca Tara dan hulu pedang emas.

Penemuan bangkai kapal Kerajaan Sriwijaya di perairan Cirebon, Jawa Barat, pada 2004 lalu menggegerkan dunia arkeologi. Betapa tidak, peninggalan tersebut merupakan harta karun terbesar yang pernah ditemukan di Asia Tenggara dalam hal kuantitas dan kualitas. Setidaknya itulah kata Luc Heymans, direktur Cosmix Underwater Research Ltd., perusahaan berbasis di Dubai yang mengangkat harta karun tersebut ke permukaan.

Luc Heymens yang terlibat dalam proyek ini menyatakan, pihaknya perlu menyelam 22 ribu kali untuk mengangkut harta karun itu dari dasar laut dalam rentang waktu Februari 2004 hingga Oktober 2005. Nilai total harta karun itu Rp 720 miliar.

Pada 2010 lalu, sempat digelar lelang atas harta karun tersebut namun sepi karena tak ada penawaran. Sekarang, lelang selanjutnya akan berlangsung di ke Singapura.

Item yang dilelang mencakup batu rubi, perhiasan emas, batu kristal dari Dinasti Fatimiyah, gelas dari Iran, dan porselen indah dari China peninggalan tahun 976 M. Selain itu ada juga vas bunga terbesar dari Dinasti Liao (907-1125 M), dan keramik Yue Mise dari era Lima Dinasti (907-960 M) berwarna hijau khusus untuk Kaisar. Tak habis di situ, ada juga bebatuan berharga seperti 11.000 mutiara, 4.000 rubi, 400 safir merah, dan lebih dari 2.200 batu akik.

Tapi rupanya, di antara harta karun itu, ada koleksi negara milik Indonesia yaitu arca Tara dan hulu pedang emas. Hal itu diungkapkan arkeolog dari Universitas Indonesia, Bambang Budi Utomo yang pernah menjadi tim seleksi negara terhadap harta karun tersebut.

"Ya, barang yang dilelang itu sebagian sudah menjadi koleksi negara seperti arca Tara dan hulu pedang emas turut dilelang," kata Tomi, panggilan akrabnya.

Lanjut Tomi, pada saat tim koleksi memilih benda-benda untuk dijadikan koleksi negara, mereka tidak bisa mengakses perhiasan yang disimpan di Deposit Box Bank Mandiri.

"Saya sungguh sakit hati dihianati seperti itu. Hal ini sudah saya sampaikan langsung ke Fadel Muhammad (Menteri Kelautan dan Perikanan waktu itu) pada waktu wawancara di tvOne," kata Tomi.

Tomi juga mempertanyakan keberadaan Panitia Nasional BMKT (Barang Muatan Kapal yang Tenggelam) ada sejak tahun 1980 tidak juga bubar. "Dulu kan belum ada menteri kelautan, maka Menko Polkam Soedomo membentuk lembaga itu. Tapi setelah ada menteri kelautan seharusnya bubar. Tapi nggak bubar-bubar," ujarnya.

"Terus Menteri Kelautan yang pertama itu melihat benda cagar budaya bawah air dianggapnya sumber daya laut yang diperlakukan kayak ikan dan karang," lanjut Tomi.

Ketika detikcom mencoba mengkonfirmasi ke Wamendikbud Wiendu Nuryanti, yang bersangkutan tidak mengangkat telepon. SMS yang dikirimkan pun belum dibalas. Sementara itu Kasubdin Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Arif Kabul Pranoto, ponselnya tidak aktif.


sumber : http://www.labhki.com/2012/04/miris-harta-karun-negara-dijual-di.html


Getirnya Uang Lima Ratus Rupiah (Kisah Ironis)



Anak sekolahan ini memilih ‘kuliah’ di kampus Unhas. Pasalnya ke enam murid ini takut ke sekolah, bukan karena takut akan gurunya, tetapi takut ditagih uang galon Rp.500 (Lima ratus rupiah). Bagaimana saya bisa mendapatkan informasi ini?. Yah, saya iseng wawancara dengan mereka. Mengapa saya wawancarai mereka?. Jawabnya: Karena telah keseringan saya temukan anak-anak ini nongkrong di pelataran parkir kendaraan di kampus saya.

Bapakku tukang batu, ibuku tukang cuci Om

Saya bergurau dengan ‘anak-anakku’ ini, malah jadi akrab sampai-sampai sekuriti berteriak nan bercanda: “Hey, apa kita bikin sama anak-anak Pak Armand?” (Terjemahan: Ngapain di situ sama anak-anak?). Sayapun probing mereka. Kian polosnya bercerita tentang kondisi sekolahnya. Dibangun di atas makam, gurunya sering rapat, kadang masuk ngajar kadang kosong. Saya pun bertanya enteng: “Kenapa sekolah di sana?”. Seorang anak menjawab: “Karena tidak bayar Om”.

Kian akrab saya, seorang berucap: “Mau diapa itu uang lima ratus rupiah dikumpul setiap hari?”. Wah rupanya anak sekolah pintar juga hitung-hitungan: “Om, kita ada 200 orang, setiap orang bayar uang galon lima ratus rupiah”. Saya tes dia: “Kan cuma lima ratus rupiah Nak!”. “Lima ratus dikali dua ratus, berapa Om?”. Selanjutnya, saya diam-diam. Ia kembali berucap: “Kalau tidak bayar, kita dilarang minum Om”.

Pengamatan alamiah selama ini -yang penulis lakukan- murid bolos sekolah atas inisiatif sendiri, usahanya sendiri untuk ‘madol’, dan tanpa alasan jelas membolos. Namun ke-enam anak ini jelas alasannya. Tak mampu membayar iuran galon (diwajibkan, red). Ke enam murid ini telah menunggak bayar uang galon hingga makin ketakutan ke sekolah. Apakah orang tua mereka tahu atas ‘kelakuan’ anak-anak ini?. Mereka menggeleng ketika saya tanyakan. Kenapa mereka tak memberitahu orangtuanya?. Mereka kembali diam…!

Saya bujuk dan ajak mereka: “Ayok ke sekolah, Om temani. Nanti Om bicara sama gurumu”. Mereka saling memandang, sesaat kemudian mereka bertutur: “Janganmi Om”. “Kenapa?”. “Tidak adami guru di sekolah. Pulangmi semua. Nabawami itu uang galon”.

Saya tak mau memaksa anak-anak ini. Terbetik tanya di kepalaku: “Jangan-jangan anak ini berdusta?”. Sayapun menjawab pertanyaanku sendiri: “Ah tidak mungkin anak-anak ini berbohong. Ekspresinya tak ada tanda-tanda kebohongan”.

* * *

Mungkin saja reportase ini tidak penting buat pembaca, namun buat saya sangat perlu. Kenapa?. Yah, betapa banyak anak-anak yang beruntung dan memiliki orangtua yang ber-ekonomi mapan, namun tak dimanfaatkan baik-baik oleh sang anak. Sedang di sini, anak-anak pengen sekolah namun betapa susahnya meminta uang lima ratus perak ke orangtuanya. Apakah sang orangtua tak mau memberikannya?. Oh bukan, menurut anak-anak ini, orangtuanya berkata: “Kenapa ada istilah bayar uang galon?”. Selebihnya, kata mereka. Kalaupun harus dibayar dimana diambilkan uang setiap hari sedangkan uang makan saja pas-pasan.

Tak mampu bayar uang galon 500 perak

Apakah kita harus menyalahkan pihak sekolah yang memungut iuran galon?. Ah tergesa-gesa rasanya jika menilai demikian sebab pengakuan anak-anak ‘malang’ ini, guru-guru di sekolahnya hanyalah ‘orang biasa’, orang-orang yang telah lama berbakti dan belum terangkat menjadi guru tetap. Lantas, kita mau salahkan siapa?. Ah bukan salah siapa-siapa. Yang pasti ke enam anak ini, kian sulit memperbaiki masa depannya, kian sulit mengubah nasibnya lebih baik dibanding orangtuanya. Apa ada pembaca ingin memberi solusi terhadap masalah yang ‘ringan’ ini?. Mohon kontribusi ide dan pikiran-pikiran edukatif dari pembaca. Insya Allah besok, saya rencana ke sekolah anak-anak ini. Terima kasih^^^.


sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/14/getirnya-uang-lima-ratus-rupiah/


Indonesia Penjual Manusia, Malaysia Memperbudak Manusia



Menanggapi konflik dengan Malaysia, Ketua DPR Marzuki Alie mendukung sikap lunak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Alasannya, dengan bersikap tegas terhadap Malaysia, Indonesia cuma akan mendapatkan harga diri. Sementara ada 2 juta TKI yang harus dilindungi.

Padahal, ketidaktegasan itulah yang membuat penganiayaan TKI terus berulang. Ketidaktegasan itu sendiri bisa menjadi isyarat adanya persekongkolan antara Indonesia dan Malaysia yang menghendaki bisnis jual beli TKI tetap aman terkendali.

Kebijakan Malaysia

Malaysia adalah pengimpor TKI terbesar. Setidaknya, 85 persen buruh migran di Malaysia adalah TKI. Angka ini menunjukkan bahwa ketergantungan Malaysia pada TKI sangatlah tinggi. Meski demikian, dari sudut pandang keselamatan manusia, Malaysia sudah tidak layak menjadi negara tujuan TKI.

Kebijakan Malaysia untuk buruh migran secara eksplisit melegalkan perbudakan. Bagi buruh migran yang bekerja sebagai PRT, misalnya, Malaysia menerapkan kebijakan yang membuat majikan bisa berganti-ganti PRT, tetapi PRT tidak punya hak untuk berganti majikan. Visa dan permit kerja PRT melekat pada satu majikan dan Malaysia memberikan wewenang kepada majikan menahan paspor PRT agar mereka tidak lari.

Ketika PRT mengalami penganiayaan, aturan yang diterapkan Malaysia menghambat mereka melaporkan kasusnya sebab pelaporan bisa berdampak deportasi. Kalaupun PRT berhasil melaporkan kasusnya, ada aturan lain yang menghambat mereka memperoleh keadilan.
Malaysia mewajibkan buruh migran yang menunggu penyelesaian kasus kekerasan untuk mengajukan permohonan visa khusus yang harganya 100 ringgit. Visa khusus ini berlaku hanya satu bulan.

Padahal, penyelesaian kasus kekerasan butuh waktu sampai empat tahun. Sementara pemegang visa khusus tidak diperbolehkan bekerja. Akhirnya TKI yang mengalami penganiayaan memilih untuk menyerah ketimbang memperkarakannya.

Kalaupun kasus penganiayaan itu berhasil dibawa ke pengadilan, pengadilan Malaysia condong berpihak pada kepentingan warga Malaysia. Dalam kasus penganiayaan Nirmala Bonat, majikan bisa bebas dari penjara hanya dengan membayar 200.000 ringgit.

TKI yang mengalami kekerasan di rumah-rumah majikan tak punya pilihan. Mereka terpaksa lari dari majikan dan menjadi TKI ilegal atau tetap bertahan dalam kondisi perbudakan. Setiap bulan 1.200-2.550 PRT lari dari majikan akibat kekerasan, gaji tidak dibayar, atau kondisi kerja berat. Dari jumlah tersebut, tidak sampai 10 persen yang ditangani KBRI.

Kebijakan Indonesia

Kebijakan Indonesia tidak kalah kejam dengan Malaysia. Malaysia melegalkan perbudakan, sementara Indonesia membuka peluang perdagangan orang. Sebab, pemerintah lebih banyak menyerahkan perlindungan TKI pada PJTKI. Mulai dari perekrutan, pelatihan, pengurusan dokumen, sampai penyelidikan kematian TKI di luar negeri diserahkan kepada PJTKI.

Yang terjadi, catatan International Organization of Migrant menunjukkan, 67 persen korban perdagangan orang direkrut PJTKI resmi.

Kalau kita simak isi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri, 93 persen pasal bicara soal bisnis penempatan TKI. Hanya 7 persen pasal yang bicara tentang perlindungan TKI.

Undang-undang juga menciptakan konflik antara Kemennakertrans dan BNP2TKI yang kian memperlemah perlindungan TKI. Bisa dipahami, ketika 513 TKI meninggal di Malaysia pada tahun 2008, Presiden tidak tahu.

Ratusan TKI terancam hukuman mati, pemerintah juga terlambat tahu. Padahal, dari 513 TKI yang meninggal itu, 87 persen adalah TKI berdokumen. Menjadi TKI legal sekalipun tak terjamin keselamatannya.

Kini perlindungan TKI semakin buruk. Serikat Buruh Migran Indonesia mencatat, dalam dua tahun terakhir kasus penganiayaan TKI meningkat 39 persen, kasus kekerasan seksual meningkat 33 persen, kasus kecelakaan kerja meningkat 61 persen, dan kasus TKI sakit meningkat 107 persen.

Data BNP2TKI juga menunjukkan, proporsi TKI berkasus meningkat dari 12,6 persen pada tahun 2009 menjadi 21 persen pada tahun 2010.

Persekongkolan

Kita banyak mengecam Malaysia atas penganiayaan TKI. Padahal, pemerintah Indonesia lebih kejam terhadap TKI. Malaysia melegalkan perbudakan demi membela kepentingan warga dan bangsanya sendiri.

Sementara berhadapan dengan sistem perbudakan Malaysia, Pemerintah Indonesia justru membuat kebijakan yang mempermudah warganya diperdagangkan dan tidak hadir di saat TKI menghadapi masalah hingga kehilangan nyawa.

Ironis bahwa saat TKI didorong memperbesar devisa, mengumpulkan uang receh negara tetangga dengan risiko kehilangan nyawa, para pejabat justru memperbesar korupsi dan DPR sibuk membangun gedung mewah dengan spa, fitness center, dan kolam renang demi kesenangan sendiri.

Di mata dunia, Indonesia adalah negara paling buruk dalam perlindungan warganya di luar negeri. Sekadar perbandingan, ketika buruh migran Filipina dideportasi dari Malaysia tahun 2002 dan seorang di antaranya dilecehkan secara seksual, Presiden Filipina datang ke Malaysia, menjemput mereka, dan mempersoalkan pelecehan yang menimpa warganya. Tindakan tegas itu memaksa Mahathir meminta maaf secara publik kepada pemerintah dan bangsa Filipina.

Buruh migran Filipina di Malaysia hanya 6 persen, tetapi Filipina mampu memaksa Malaysia membuat memorandum of agreement (MOA). Dengan 85 persen PRT di Malaysia, Indonesia sama sekali tidak mampu memaksa Malaysia membuat memorandum of understanding (MOU) yang tingkatnya lebih rendah daripada MOA.

Malaysia akan terus bertindak sewenang-wenang kepada TKI karena di hadapan Malaysia, Pemerintah Indonesia sudah kehilangan harga diri. Harga diri itu sendiri lokusnya pertama-tama bukan pada sikap atau tindakan bangsa lain, melainkan pada sikap para pemimpin terhadap anak-anak bangsanya sendiri. Kalau pemimpin tidak menganggap satu nyawa warga berharga bagi bangsa, bagaimana mungkin bangsa lain menghargai kita.

Bisa dipahami kalau kemudian ada sekelompok warga Indonesia melakukan aksi melempar kotoran ke kantor Kedutaan Besar Malaysia. Sebab, melempar kotoran di kantor pemerintah dan DPR tiada guna lagi. Bagi mereka, devisa dan gedung mewah lebih berarti daripada harga diri.


Akhir kata, sikap lunak Presiden SBY terhadap Malaysia di tengah memburuknya perlindungan TKI mengisyaratkan adanya persekongkolan antara Indonesia dan Malaysia agar sistem jual beli TKI tetap aman terkendali.

Sekadar mengingatkan, bisnis jual beli TKI adalah bisnis besar sarat keuntungan yang melibatkan demikian banyak pihak, termasuk para anggota DPR dan pejabat tinggi hingga rendahan RI.


( kompas.com )


Kisah Sri Purwati Diperbudak Selama 25 Tahun



Azan magrib baru saja menjelang di Kota Medan. Sri Purwati alias Butet berjalan tersuruk-suruk, lalu melompati pagar sebuah rumah yang baru ditempatinya enam bulan di Kelurahan Kampung Baru, Medan, itu. Sri menenteng sebuah plastik kresek berisi baju yang baru kering dari jemuran di belakang rumah dan berjalan mengendap-endap menuju sebuah musala tak jauh dari rumah itu.

"Sri datang ke musala dan ketemu Pak Imam," kata Kepala Lingkungan Kelurahan Kampung Baru, Muhamad Fahmi. "Dia mengaku melarikan diri berkat bantuan dari calon menantu majikannya," kata Fahmi saat ditemui pada Selasa 13 Maret 2012.

Sang calon menantu itulah yang membuat Sri menguatkan tekadnya hendak pergi dari rumah MR, orang yang telah menjadi tuannya selama 25 tahun. Sang calon menantu memberinya uang Rp50 ribu dan menyuruhnya pergi begitu MR berada di lantai 3 rumahnya.

Imam, penjaga musala, langsung mengantar Sri ke polisi pada 8 Februari 2012, pukul 22.00 itu. Dan kisah sedih bak perbudakan yang dialami Sri sejak ikut keluarga MR di usia 9 tahun pun terbongkar.

Merantau dari Jawa

Saat bertemu polisi, identitas Sri sangat kabur. Untunglah, sekeping ingatan Sri saat pernah sekolah di sebuah sekolah dasar negeri di Medan membantu pencarian identitasnya. Sri terlahir di Desa Jumo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Juhari dan ibunya bernama Fatimah.

Sri mengingat pergi ke Sumatera Utara bersama ayah, ibu dan satu kakak laki-lakinya karena sebuah gunung di desa kelahirannya meletus. Mereka ikut program transmigrasi ke Sumatera Utara, namun lupa di mana daerah penempatannya.

Tak lama di daerah transmigrasi itu, ayahnya pamit pulang ke Jawa untuk menghadiri pesta perkawinan saudaranya. Kakak laki-lakinya dibawa serta. Itulah momen terakhir Sri melihat ayah dan kakaknya. "Ayah menghilang. Alasannya dulu saya masih ingat, bilang mau ke pesta saudara di Jawa," kata Sri.

Tinggallah Sri bersama ibunya di Sumatera Utara. Tak lama, di Kampung Ladang, Medan, ibunya menikah dengan seorang pria beranak empat yang Sri sendiri lupa namanya. Tiga bulan kemudian mereka bercerai.

Saat menetap di Kampung Ladang itulah, Sri tercatat di sebuah sekolah dasar negeri.

Karena kembali menjanda, ibunda Sri berjualan jagung bakar di Kampung Ladang. Saat berjualan jagung bakar ini, ibu Sri berkenalan dengan pria bernama Aeng yang berdagang di sebelah dagangan ibu Sri. Namun rupanya perkenalan tersebut merupakan awal perjalanan kelam berikutnya bagi Sri dan ibunya.

Aeng membawa Sri dan ibunya ke lokalisasi pelacuran 'Bukit Maraja' yang terletak di Kabupaten Simalungun. Sri masih fasih betul menyebutkan tempat tersebut.

"Kami dibawa ke pelacuran di Bukit Maraja, di situlah ibu diperkerjakan sebagai pelacur," kata Sri. "Saya masih ingat ketika ibu menerima tamu, saya harus diungsikan ke kamar sebelah," ujarnya.

Namun, menjadi pelacur juga tak membuat hidup Sri dan ibunya membaik secara ekonomi dan sosial. Sri malah sering melihat ibunya menangis.

"Aku tak bisa membayangkan ibu selalu menangis. Seingat aku, terakhir aku merasakan cinta dari ibu ketika aku memeluknya, dan di keesokan harinya saya tak bertemu lagi dengan ibu," kata Sri. "Ibu menghilang, sampai sekarang saya tak bertemu ibu."

Karena ibunya menghilang, Sri ditahan germo yang mengelola kompleks pelacuran itu, sebagai jaminan. "Akhirnya Aeng juga yang membawa saya keluar dari situ dan dipekerjakan menjadi pembantu rumah tangga oleh Aeng."

Setelah dua bulan di eksploitasi Aeng, menjelang usia 10 tahun, Sri akhirnya menjadi pekerja rumah tangga di rumah MR.

Diperkosa dan Dianiaya

Bekerja di rumah MR ini rupanya hanya melanjutkan episode kelam hidupnya. Sri tak pernah menerima gaji sampai 25 tahun kemudian melarikan diri. Di usia 10 tahun, dua kali keponakan MR memperkosanya.

Tindak kekerasan lainnya pun kerap dialaminya. Sri sering diperlakukan kasar seperti dicaci, bahkan dianiaya. Makan pun dijatah. Sehari-hari, ia tidak diperbolehkan berinteraksi dengan orang sekitar. Aksesnya untuk ke luar rumah ditutup oleh majikannya.

Sri sudah kerap putus asa dengan hidupnya. Berkali-kali Sri mencoba bunuh diri. "Aku pernah mau bunuh diri. Sudah sering. Yang terakhir, aku sempat memotong nadiku, tapi aku masih bisa selamat," ujarnya sambil menunjukkan bekas sayatan pisau di lengannya.

Sebelum melarikan diri dari rumah majikannya, Sri dipukul oleh MR sehingga menyebabkan memar di bagian wajahnya. "Aku dipukul, makanya aku putuskan melarikan diri malam itu juga, dan melapor ke polisi," ujarnya.

Rina Sitompul, pendamping Sri Purwati, menyatakan MR telah melakukan tindakan kekerasan dan perbudakan. "Perlakuan ini jelas melanggar hak asasi manusia, karena perlakuan yang sangat kejam ini tidak berperikemanusian. Hak Sri untuk tumbuh dan berkembang sejak ia kecil sudah dirampas oleh majikannya, bahkan ketika dia dewasa hak dia sebagai pekerja tidak diberikan. Kejam," ujar Rina.

Dia menambahkan, seumpama UU Perlindungan Anak berlaku surut, maka majikan Sri Purwati juga bisa dijerat dengan UU tersebut. "Kami meminta agar pihak kepolisian tidak kecolongan untuk mengenakan pasal berlapis kepada majikannya, karena selain KUHP iya juga dikenakan Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga karena ada tiga bentuk kekerasan yang dilakukannya: kekerasan fisik, psikis dan kekerasan dalam bentuk ekonomi yang dialami Sri selama 25 tahun ini," kata Rina.

Sementara MR menghilang dari rumahnya. Sejumlah wartawan yang menunggui rumahnya tak bisa menemui anggota keluarganya yang lain.

Kepala Kampung Ladang Muhamad Fahmi menyebut, MR baru enam bulan pindah ke rumah ini. Sebelumnya MR diketahui tinggal di Kecamatan Medan Polonia, kawasan lain di Medan. "Dia kurang lebih baru 6 bulan di sini. Sampai saat ini dia belum pernah melapor ke sini sejak kepindahannya. Dia jarang bersosialisasi dengan sekitarnya," kata Fahmi.



Rabu, 11 Juli 2012

Yogyakarta Siap Berpisah dari NKRI


Berbagai elemen masyarakat pendukung Keistimewaan Yogyakarta mengikuti Apel Siaga Rakyat Yogyakarta Pro-Penetapan di Alun-alun Sewandanan Puro Pakualaman, Yogyakarta. Aksi tersebut ditujukan antara lain untuk mempererat persatuan masyarakat pendukung penetapan gubernur dan wakil gubernur DIY sebagai bagian keistimewaan Yogyakarta. 

Ketidakjelasan nasib Rancangan Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta membuat masyarakat semakin kecewa dengan kepemimpinan nasional Indonesia.

Bahkan, kondisi terburuk jika pemerintah pusat tak juga memberikan tuntutan atas keistimewaan Yogyakarta, tidak menutup kemungkinan Yogyakarta melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Itu keputusan detik-detik terakhir. Kalau pemerintah tidak mau memperhatikan sejarah lagi, itu risiko dan kami akan bersikap," kata GBPH Prabukusumo usai menghadiri Apel Siaga Rakyat Yogyakarta Pro Penetapan di Alun-alun Puro Pakualam.

Prabukusumo juga yakin, Yogyakarta tetap akan dapat bertahan kalau harus lepas dari NKRI. Meski hanya memiliki sumber daya alam sedikit, tapi Yogyakarta punya sumber daya lain yang bisa menaungi seluruh rakyat.

"Itu suatu konsekuensi. Saya punya keyakinan Yogyakarta mampu," tegas Prabukusumo.

Ia juga mengatakan, mendiang ayahnya, Sultan Hamengku Buwono IX, merupakan orang yang membuka perdagangan Indonesia-Jepang. Ratusan triliun rupiah investasi Jepang masuk ke Indonesia sejak saat itu.

"Kalau Ngarso Dalem (Sultan Hamengku Buwono X) berkenan dan bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan masyarakat, pasti Jepang akan memberikan bantuan," ungkap dia.

Sementara, Ketua Sekber Keistimewaan DIY, Widihasto, mengatakan, rakyat DIY tak akan mundur sejengkal pun untuk terus memperjuangkan keistimewaan dengan penetapan.

"Kami meminta masyarakat untuk melakukan pemboikotan, sabotase, dan pembangkangan sipil terhadap semua mekanisme pemilihan yang dipaksakan pemerintah pusat," ajak Hasto.


sumber : http://regional.kompas.com/read/2012/03/25/20514954/Yogyakarta.Siap.Berpisah.dari.NKRI

Jumat, 15 Juni 2012

Sesumbar dan Strategi 'Busuk' Foke




Bbrp hari yang lalu saya ketemu seorang teman. Dia ilmuan terkemuka, cerdas dan idealis. Dia cerita ttg pertemuannya dgn Foke Gub DKI



Saya tidak izin kpd beliau utk tuliskan intisari hasil pertemuan dia dgn Si Foke. Dan dia juga tdk bilang bhw itu off the record

Intinya adalah pada tahun lalu (2011), dia diundang oleh Foke datang ke Kantor Foke di Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta

Foke menerima dia di ruang kerjanya. Foke cerita banyak ttg niat Foke utk maju sbg cagub pd Pilgub 2012.

Foke cerita bgmn dia sudah menyusun tim yg lengkap, siapkan dana yg luar biasa besar, termasuk dgn manfaatkan anggaran dinas2 di DKI

Foke katakan bhw dia tidak gentar dgn penilaian miring masyarakat DKI thdp kinerjanya yg jeblok. Dia sesumbar bhw dia pasti menang

Kekuatan uang dan "permainan kotor" di KPUD dan lapangan akan jadi penentu kemenangan Foke dlm pilgub 2012

Bahkan Foke menawarkan "korupsi" anggaran proyek kepada teman saya itu. Istilahnya "proyek tumpangan".

Foke tidak sadar siapa lawan bicaranya. Seorang tokoh cendikiawan muda yg punya integritas tinggi dan terkenal teguh prinsipnya

Foke optimis akan menangkan pilgub DKI karena masyarakat DKI yg kritis biasanya golput. Keluar kota pd hari pemungutan suara

Sedangkan rakyat miskin dan kelas bawah, akan mudah dibujuk rayu utk pilih Foke dgn imbalan sembako atau rupiah

Apalagi Foke sudah siapkan dana APBD ratusan milyar utk dikucurkan ke kelurahan2 dgn tameng bansos, dana koperasi, UKM dst.

Plus bantuan para konglomerat hitam, developer2 & kotraktor2 rekanan pemprov DKI yg selama ini nikmati korupsi bersama Foke

Para pemilik, redaktur dan. Wartawan2 hampir semua media sudah dibeli jiwa raganya oleh Foke. Uang tidak masalah. Melimpah.

Dukungan Partai tidak usah dipusingkan, ujar Foke. Semua bisa dibeli. Ada harganya. Juga dukungan istana.

Tokoh2 politik, ulama, masyarakat, budaya, ilmuan, ormas dst..juga sudah dibeli Foke. Bahkan dengan harga yg sangat murah.

Foke dengan kekuatan uang haramnya tidak khawatir dgn ejeken SBY pada dirinya yg dijuluki : Si Gubernur Pepesan Kosong !

SBY mah urusan gampang, kata Foke. Ntar juga pasti dukung saya hehe... Lihat saja buktinya nanti, lanjut Foke dgn pede

Kekuatan besar saya yg lain adalah mesin birokrasi, kata Foke. 99% PNS DKI pasti dukung saya. Gaji mereka sy naikan jor2an

Lihat saja, mana ada PNS DKI yang susah. Gaji mereka minimal 5 juta/bulan. Guru 7.8 juta/bulan. Belum objekan kiri kanan

Anda bayangkan saja, APBD DKI itu puluhan triliun per tahun. Tahun depan 40 Triliun. Sebagian besar utk gaji dan belanja PNS

Pokoknya saya yakin menang pilgub DKI 2012, tambah Foke. Yang penting anda mau dukung dan masuk ke dalam timses Fauzi Bowo

Setelah 2 jam Foke ngibul kesana kemari, lalu Foke bertanya pada teman saya itu : "Menurut Anda kinerja saya sbg Gub bgmn?"

Teman saya mikir keras. Foke rapatkan wajahnya ke wajah teman saya. Serius mau mendengar penilaian jujur teman saya itu

Akhirnya teman sy itu mnjwb : "saya menilai bhw kinerja Pak Fauzi Bowo selama 4 thn ini tidak ada apa2nya. Tdk terasa sama sekali"

Wajah Foke sekita merah padam kayak udang rebus. Emosinya meledak. Matanya mendelik. Nafasnya tersengal2. Dia spontan tarik mundur badannya

Sambil menahan marah dan emosi, lalu Foke berkata : " Ya sudah. Kalau demikian penilaian Anda !!" ..suasana pertemuan langsung kaku

Stlh berbasa basi, teman sy pamit undur diri. Foke masih menahan kemarahannya. Tidak terima penilaian teman sy yg jujur itu

Sejak hari itu, Foke tidak pernah sekalipun pernah menghubungi teman saya itu. Dia marah. Ga mau diberi penilaian jujur. Sakit.

Bgmn seorg Gubernur seperti Foke bisa diterima sbg pemimpin jk jiwa & fikirannya "sakit" ? Telinganya "budek", mata "buta"

Sikap temperamental Foke. Emosi yg td stabil. Otoriter dan arogan kpd para stafnya, pemarah, anti kritik, sdh jadi rahasia umum

Mayoritas PNS dan pejabat2 DKI termasuk juga para teman2 wartawan sdh sering melihat perilaku Foke yg menyimpang itu.

Lalu, apakah Gubernur seperti Foke akan kembali jadi Pemimpin Rakyat DKI Jakarta? Saya mah ogah. Ga tahu kalau teman2 tuips...

Sekian dan terima kasih telah menyimak kultwit saya ttg pembicaran Foke dan teman saya tahun lalu..semoga bermanfaat.



sumber : http://twitter.com/TrioMacan2000

Senin, 11 Juni 2012

Kisah Seorang yang Bergairah Hidup Meski Tanpa Kaki dan Tangan




Demi bertahan hidup, seorang pria yang tidak memiliki kaki dan tangan yang lengkap ini tetap bisa bergairah menjalani kehidupan sehari-hari.



Ia dengan lincahnya memanjat pohon kelapa atau berenang di sungai untuk mencari ikan di dasar sungai. Meski dengan keterbatasan yang ada, pria ini tetap tegar menyambung hidup bahkan bercita-cita membangun sebuah rumah tangga sebagaimana pria pada umumnya.

Sejak lahir, Salam (40), asal Dusun Panyili, Desa Tadangpalie, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan memang cacat tangan dan kakinya.

Namun cacat fisik yang dialaminya ini, tidak membuat pria bujang ini putus asa. Bermodalkan sepetak sawah warisan orangtuanya, Salam menjalani hari-harinya sebagai petani.

Sementara untuk menutupi kebutuhan lain, Salam melakukan berbagai macam pekerjaan sampingan seperti memetik kelapa dengan upah Rp 1.500 sekali panjat atau beberapa buah kelapa sebagai hasil keringatnya.

Bila sedang tak ada lauk untuk makan, Salam tak ragu terjun ke sungai mencari ikan. Tangan dan kaki yang hanya sebelah saja bukan halangan bagi Salam untuk menyelam ke dasar sungai memburu ikan-ikan.

Saat Kompas.com mengunjungi kediamannya, Salam bersiap menjalani pekerjaannya untuk memanjat kelapa dan mencari ikan di sungai.

"Hari ini ada yang panggil saya panjat kelapa. Ikan juga sudah habis. Jadi, ikut saja, tapi jauh itu tempatnya," ujar Salam.

Dalam perbincangan kemudian, Salam sempat curhat soal kehidupan asmaranya. "Sebenarnya saya ini juga mau sekali punya isteri dan punya anak. Tapi yah maklum tidak ada perempuan yang mau sama saya karena katanya tidak ada kakiku sama tanganku," ujarnya sambil tersenyum.

Meski demikian, ia tetap berharap agar kelak ia bisa membangun rumah tangga sebagaimana pria lain.


sumber : http://www.tribunnews.com/2012/03/29/perenang-dan-pemanjat-pohon-tanpa-tangan-dan-kaki




Sabtu, 09 Juni 2012

Inilah Kebohongan Reality Show Indonesia




SALAH satu tayangan sampah di televisi adalah reality show atau yang sekarang disebut reality drama. Demi mengeruk iklan alias keuntungan, stasiun TV berlomba-lomba meraih penonton dengan tayangan kamuflasif alias penuh tipuan, rekayasa, yang oleh bagi sebagian orang yang jeli adalah penipuan publik. Namun benarkan bisa dikatakan demikian?

1. Sadar Kamera

Pemainnya yang digambarkan sebagai orang-orang sipil yang kagak sadar direkam itu ternyata sadar kamera. Maksud saya, lihat bagaimana posisi mereka saat kamera dengan diam-diam merekam. Sangat ketahuan betul kalau mereka hanya cast yang diatur agar menjaga ‘titik pandang’ kamera. Semata agar terlihat nyaman dip roses editing dan selanjutnya, menjadi sebuah produk tayangan.

2. Produktif

Mungkin agak aneh dengan program sejenis yang bisa tayang sampai seminggu tiga kali. Logikanya, untuk menyelidiki seseorang memang perlu waktu lebih dari satu minggu. Begitupun seperti yang digambarkan dalam tayangan itu. Terlihat dengan scene: hari ke satu.. hari ke delapan. Apakah mustahil dengan format tayangan seminggu tiga kali? Sebab konon syuting aslinya dilakukan hanya seharian penuh.

3. Format Bodoh

Dalam tayangan di TV, pembuatnya merasa format ini akan lebih meyakinkan untuk dipercayai masyarakat. Formatnya adalah: satu, bagian pengakuan dari klien asli. Misalnya dia mengeluh karena suaminya ML sama pembokatnya sendiri. Di lain scene, ada juga pengakuan sang suami lengkap dengan pembokapnya. Langkah dua: adegan peragaan yang diibaratkan dimainkan oleh model. Jadi bukan cast di langkah pertama yang memeragakan, melainkan cast yang lainnya. Hal ini agar format lebih dipercayai penonton. Langkah terakhir, host-nya mulai terjun ke lapangan untuk menuntaskan masalah tersebut. Haha! Kucing saya hamper mampus saking banyak ketawa. Coba kamu pikir, orang bodoh macam mana yang mampu mengurai aib-nya sendiri dengan bersedia diwawancara. Misalnya Ariel bersedia diwawancara sementara ia dipihak ‘pendosa’ yang melakukan zina sekaligus merekam video porno. Nah, lho. Saya nggak tahu tayangan itu masih ada apa kagak. Sudah dua bulan saya puasa nonton TV.

6. Klimaks

Karena rekayasa, otomatis episode ini penuh dengan klimaks-klimaks ala sinetron Indonesia. Misalnya si A adalah lelaki yang nggak peduli sama keluarga. Belakangan pas diselidiki dia ternyata HOMO yang jual diri. Pas diselidikin terus lewat mobil di belakang, diketahuilah si A masuk mobil tertentu lalu selama dalam perjalanan, si A kemudian dikeluarkan dari mobil dalam keadaan telanjang dada. Dramatis amat, woy! Si A pun dibawa ke mobil pendetektif kemudian bertobat. Dia ngaku kalau dia habis dirampok. Waw, padahal bodi si A gede tuh. Apa mungkin si penodong di mobil pakai senjata api? Siapa tahu? Tapi lebih banyak, proses tobat dalam tayangan sejenis berlangsung cepat dan tiba-tiba. Misalkan si B anak lelaki yang di-skrip-kan suka maki-maki orang tua. Nggak lama dia akhirnya tobat dan sujud sama ibunya. Berkopiah dan berkokolah ia. Ahhaha!

7. Sound

Klien yang pura-pura nyelidikin dan nanya-nanya sumber (sementara kamera diletakkan sembunyi-sembunyi) menempelkan microphone di bajunya. Namun entah kenapa sang sumber menjawab dengan sangat jelas. Padahal logikanya, sang sumber terdengar samar dan sang klien terdengar jelas. Tanya kenapa?

8. Akting maksa

Kita pun tahu mana ekspresi yang asli dan mana ekspresi yang lebay.

Saran:

- Reality show yang dulu pernah dikecam adalah Curhat (Anjasmara) di TPI. Penuh dengan kata-kata kotor yang disensor. Salah satu cast-nya juga main di Take Him Out.

- Hindarkan tayangan tentang mistik. Para jin kafir dan iblis akan senang kalau keberadaannya dibahas. Membuat manusia ‘semakin percaya’ pada ‘keagungan’ dunia jin dan lumayan membuat parno. Bikin tayangan realigi realitas semisal yang homo-homoan tadi. Awalnya homo, ngucing, terus tobat. Awalnya ngeganja, damprat ortu, terus tobat. Begitulah.

- Jangan membahas masalah permasalahan seksual, apalagi di tayangkan di jam anak-anak sekolah (pagi). Meski khusus buat ibu-ibu, tapi anak-anak yang sekolah siang bisa nyimak dulu tayangan di Tv itu.

- Tayangan di luar negeri juga rekayasa. Namun mereka mampu mengemasnya dengan sangat asli. Survivor misalnya, tayangan ketika banyak orang dibiarin hidup di pulau tertentu dan yang bertahan di sana adalah yang menang. Logikanya, mana mungkin orang-orang dibiarin kelaparan sementara kru/kameramen enak-enakan makan.


| sumber |

Selasa, 29 Mei 2012

10 Pekerjaan Paling Berbahaya di Dunia





Kita mesti mengakui, supaya bisa tetap bertahan hidup, kita mesti kerja dan setiap pekerjaan selalu ada resiko kesehatannya. Macam-macam resiko kesehatan mulai dari sakit kepala ampe jatuh dari ketinggian yang ujung-ujungnya kematian. Apapun pekerjaannya, gak ada pekerjaan yang dijamin aman. Berikut ane mau coba bahas pekerjaan-pekerjaan yang termasuk paling berbahaya. Kalau ada agan-agan yang kerjaannya salah satu dari yang ane sebutin, yaah ane cuma bisa bilangin lebih hati-hati aja. Daftar yang ane bahas ini berdasarkan masing-masing jenisnya dan jumlah kematian per seribu orang yang bekerja di profesinya masing-masing.



Pekerja Konstruksi Bangunan



Rata-rata pendapatan tahunan pekerja konstruksi yaitu sekitar $66,422 dan tingkat kematiannya kira-kira 18.3 orang per 100,000 pekerja.

Pekerjaan ini termasuk berbahaya karena pekerja konstruksi mesti bisa bekerja di berbagai tingkat ketinggian dan gak mungkin mereka bisa gak masuk kerja, gak peduli entah tempatnya tinggi banget, licin, terjal, bahkan di jalan layang atau jalan tol yang rame. Lebih parahnya lagi, pekerja konstruksi sering kerja menggunakan bahan-bahan peledak (apalagi kalo kerja di pegunungan) dan alat-alat berat buat ngebor, dll.

Sopir Truk 



Rata-rata pendapatan tahunan sopir truk yaitu sekitar $43,048 dan tingkat kematiannya kurang lebih sama kayak pekerja konstruksi: 18.3 orang per 100,000 pekerja.

Mengemudi bukan cuma sekedar profesi, tapi kalau dijalanin rutin jadi sulit. Kenapa sopir truk masuk ke daftar ane ini karena mereka mesti mengemudi dalam jarak yang jauh dan biasanya pada malam hari. Jalanan jadi membosankan karena gak ada macet ataupun apapun, jadi rasanya monoton. Menjaga supaya tetap fokus atau bahkan tetap bangun jadi sangat sulit, dan namanya juga di jalanan, sedikit aja lengah atau ceroboh, minimal masuk rumah sakit, maksimalnya agan-agan tau sendiri..

Teknisi Mesin Pabrik



Rata-rata pendapatan tahunan teknisi mesin pabrik yaitu sekitar $46,645 dan tingkat kematiannya sedikit lebih tinggi dibanding pekerja konstruksi atau sopir truk, sekitar 18.5 orang per 100,000 pekerja.

Mesin-mesin industri sangatlah tidak bersahabat dengan manusia. Mereka dibuat untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berat seperti menghancurkan, melelehkan, memanaskan, mendinginkan dan membentuk/membengkokkan.Sedikit aja gangguan dan hilang konsentrasi bisa menyebabkan pekerjanya yang jadi bahan olahan pabrik. Ada juga resiko kalau alatnya rusak atau ada ledakan, bukan cuma pekerjanya yang celaka, tapi seluruh bangunan bisa hancur.

Tukang Sampah



Rata-rata pendapatan tahunan tukang sampah sekitar $35,945 dan tingkat kematiannya sekitar 25.2 orang per 100,000 pekerja.

Pasti agan-agan berasa aneh, masa tukang sampah masuk jadi pekerjaan berbahaya Kalau di Indonesia yang tukang sampahnya pake gerobak, mungkin gak termasuk di daftar ane. Paling pol juga berat nariknya doang Tapi kalau di negara-negara luar seperti amerika, mereka pakai mobil yang keliling ngangkutin sampah dari rumah ke rumah. Biasanya satu sopir dan satu yang ambilin sampahnya dan naruh di mobil sampahnya. Nah, yang ngambilin sampahnya ini biasa gelantungan di pinggir bak mobil selagi mobilnya jalan dari rumah ke rumah. Trus dimana bahayanya? Bayangkan mereka lagi gelantungan, tiba-tiba kepleset tangannya atau ada guncangan atau tabrakan. Mereka bakal hilang keseimbangan dan jatuh langsung ke jalan. Mereka bisa ditabrak kendaraan yang lewat dan ujung-ujungnya luka parah.

Tukang Besi/Baja



Rata-rata pendapatan tahunan tukang besi/baja yaitu sekitar $47,013 dan tingkat kematiannya cukup tinggi yaitu sekitar 30.3 orang per 100,000 pekerja.

Sangat masuk akal jika pekerjaan ini termasuk berbahaya. Mereka biasanya bekerja di tempat yang tinggi, mereka mesti bisa hindarin reruntuhan yang jatuh dan biasanya mereka berjalan di papan yang sempit. Dan biasanya mereka jalan dengan memikul beban berat di punggung mereka.

Tukang Atap



Rata-rata pendapatan tahunan tukang atap yaitu $36,895 dan tingkat kematiannya tinggi, sekitar 34.7 orang per 100,000 pekerja.

Tukang atap ya pasti kerjaannya betulin atap. Penyebab tingginya tingkat kematian di sini adalah pijakan yang kurang pas, permukaan atap yang miring, ketinggian, gak ada perlengkapan keamanan, permukaan yang licin dan biasanya memakai kedua tangan waktu kerja, jadi gak bisa pegangan. Parahnya, kadang mesti kerja juga entah cuacanya panas banget atau hujan atau anginnya kencang. Sedikit aja hilang keseimbangan, sisanya tinggal sejarah.

Petani



Rata-rata pendapatan tahunan petani sekitar $30,450 dan tingkat kematiannya sekitar 38.5 orang per 100,000 pekerja.

Pekerjaan ini biasanya memakai mesin untuk membuat jerami, atau traktor,dll. Petani mesti sangat hati-hati waktu memakai mesinnya, sedikit kesalahan dalam memakainya, bisa-bisa mereka yang diolah mesinnya. Dan juga, petani biasanya menggunakan banyak bahan-bahan kimia berbahaya dan pestisida yang bisa meracuni kesehatan.

Pilot Pesawat Terbang



Rata-rata pendapatan tahunan pilot pesawat yaitu $117,948, cukup tinggi memang, tapi tingkat kematiannya sekitar 57.1 orang per 100,000 pilot.

Gak perlu jadi pilot pesawat terbang dari penerbangan resmi . Buat menyebar bibit atau pupuk pertanian, atau promosi iklan aja, uda termasuk di daftar ini. Biasanya yang menyebar bibit ini yang resikonya tinggi karena mereka harus terbang rendah dan pesawatnya kecil. Gak ada toleransi untuk kesalahan. Sedikit kesalahan, mereka akan jatuh ke daratan dan terlempar jauh.

Penebang Kayu



Rata-rata pendapatan tahunan penebang yaitu $40,278 sedangkan tingkat kematiannya tinggi, yaitu 61.8 per 100,000 pekerja.

Penebang bekerja di hutan dan biasanya menggunakan alat-alat berat seperti gergaji listrik. Pijakan mereka sering licin dan tidak rata. Mereka bekerja di cuaca dan lingkungan yang berbahaya. Mereka bekerja di daerah perhutanan dimana cuma sedikit atau bahkan gak ada fasilitas kesehatan. Maka jika terjadi apa-apa, gak banyak pertolongan yang bisa dilakukan.

Nelayan



Rata-rata pendapatan tahunan nelayan yaitu $44,141 sementara 200 orang mengalami kematian per 100,000 nelayan.

Mereka biasanya ditemukan mengangkut muatan ikan yang berat dan juga jaring ikan yang besar dan berat di lautan terbuka. Mereka juga mesti memperhitungkan kekuatan angin, perahu yang licin, hujan dan cipratan air.


sumber : http://www.thelisticles.com/people-and-politics/most-dangerous-jobs/

Rabu, 16 Mei 2012

Sinetron Indonesia Dan Pembodohan Masyarakat

http://4.bp.blogspot.com/-VJHLzBVvIFk/TfAUHuIp3zI/AAAAAAAAAEc/bEa7YgnJDpk/s1600/497668570_a4428f7802.jpg



Entah disadari atau tidak, sinetron yang mendominasi layar kaca di Indonesia sebenarnya merupakan adaptasi (baca: jiplakan) dari berbagai tayangan drama yang populer di negeri asalnya seperti Korea, Jepang, Taiwan, dan sebagainya. Berikut daftarnya:


  1. 2 Hati (Snow Angel)
  2. Benar-Benar Cinta (Devil Beside You)
  3. Benci Bilang Cinta (Goong/Princess Hours)
  4. Benci Jadi Cinta (My Girl)
  5. Berani Tampil Beda (The Magicians of Love/Ai Qing Mo Fa Shi)
  6. Bintang (Huan Zhu Ge Ge)
  7. Bukan Diriku (Anything for You)
  8. Buku Harian Nayla (Ichi Rittoru No Namida/1 Litre of Tears)
  9. Cincin (Beautiful Days)
  10. Cinta Remaja (My Sassy Girl Choon Hyang)
  11. Cowok Impian (It Started With a Kiss)
  12. Darling (My Name is Kim Sam Soon)
  13. Dua Hati Satu Cinta (Qin Shen Shen Yu Meng Meng)
  14. I Love You, Boss! (Bright Girl’s Success Story)
  15. Intan (Be Strong Geum Soon)
  16. Janji Jaya (My Name is Kim Sam Soon)
  17. Katakan Kau Mencintaiku (Sad Love Song)
  18. Kawin Muda (My Little Bride)
  19. Liontin (Glass Shoes)
  20. Pacarku Besar Sekali – FTV (My Name is Kim Sam Soon)
  21. Pangeran Penggoda (Devil Beside You)
  22. Pengantin Remaja (My Little Bride)
  23. Rahasia Pelangi (Love Apart a Moment)
  24. Sumpeh Gue Sayang Loe (Smiling Pasta)
  25. Siapa Takut Jatuh Cinta (Meteor Garden)
  26. Wulan (Term of Endearment)

Termasuk beberapa sinetron yang dibuat dengan meminta lisensi dari pembuat drama aslinya, seperti:
  1. Impian Cinderella (Prince Who Turns into Frogs)
  2. Kau Masih Kekasihku (At the Dolphin Bay)
  3. Penyihir Cinta (Magician of Love)
  4. Putri Kembar (100% Senorita/Twins)
Ada yang berani memasang soal ini di koran nasional?
Atau setidaknya mengajukan proposal ke MURI dengan predikat penjiplak sinetron terbanyak?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzRBeuZ01z0-IMgkA5EkP2p6diEGBS6iru0UM_yngm8Z1oZf0EVa9iiKIEuGyeE9jVwSMc8Y8nUqDJv5xJXZEg4S9pWYAnVkCtD3Ny2dcRFY3Xe_VScWWWpiZkK2RCrQsLupbN1tQ0iGQ/s1600/kid-watching-tv.jpg

Secara ekonomis, menjiplak jelas lebih murah daripada memproduksi sendiri. Menjiplak tidak melibatkan unsur kreativitas, idealisme, risiko pasar, dan pengorbanan waktu dan tenaga yang begitu besar. Dibanding film yang berkualitas, membuat sinetron membutuhkan biaya tak lebih dari Rp 500-Rp700 juta. Dunia Tanpa Koma (DTK) yang termasuk bagus saja menelan tak kurang dari Rp 800 juta.

Kalau dilihat sepintas, produsen sinetron plagiat terbesar adalah Sinemart. Kemudian disusul production house lain seperti MD Entertainment, Multivision, Frame Ritz, Soraya Intercine, dan seterusnya. Tapi konyolnya, di ending creditnya mereka menyatakan “Cerita ini bla.. bla.. adalah fiktif/karangan. Apabila terdapat kesamaan nama, tokoh, alur cerita, bla.. bla.. adalah kebetulan semata.” Very funny.

Buku Harian Nayla, misalnya. Dialog pemainnya, adegannya, 90% lebih sama persis dengan Ichi Rittoru No Namida/1 Litre of Tears — kecuali kualitas pemainnya yang (maaf) amatiran dan nyaris tanpa ekspresi. Film bagus yang “diadaptasi” jadi sampah.

Aslinya, dorama ini diangkat dari kisah nyata berdasar buku harian Kitou Aya, yang berjuang menghadapi penyakit Spinocerebellar Degeneration yang dideritanya sejak umur 14 tahun sampai ia meninggal saat umur 25 tahun. Penuh air mata? Ya. Ichi Rittoru No Namida juga banyak menyimpan adegan menyentuh yang sangat indah. Di ending creditjuga diperlihatkan foto asli Aya, diiringi lagu Only Human dari K, yang makin membuat sedih.

Contoh lain, Benci Jadi Cinta, juga sangat persis dengan My Girl. Sinetron ini menceritakan cewek ABG yang centil dan pandai berakting. Suatu ketika, cewek tersebut (Zouyulin) tinggal serumah dengan si cowok (Gongcan) untuk berpura-pura sebagai sepupunya yang lama menghilang. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan kakek yang sedang sakit parah. Tapi lama kelamaan, timbul rasa cinta di antara keduanya — klise. Bedanya, di My Girl cewek keduanya adalah pemain tenis, sementara di Benci Jadi Cinta diganti sebagai pemain bulutangkis.

Adik saya bilang, sinetron Gue Sihir Lu (Nia Ramadhani) yang bercerita tentang penyihir juga diadaptasi dari komik serial cantik “Throbbing Tonight”, yang bercerita tentang Ranze dan Makabe, anak raja setan yang dibuang ke bumi. Juga sinetron Si Yoyo yang ternyata adaptasi dari film India (maaf, saya lupa judulnya).
Update:
  • Sinetron Sissy, Putri Duyung, yang ditayangkan setiap hari Senin jam 19.00 sebagian besar meniru film produksi luar negeri yang berjudul Aquamarine. Kedua film ini menceritakan tentang seorang putri duyung yang tiba-tiba berubah menjadi manusia dan jatuh cinta pada manusia. Info via nthee.
  • Sinetron Olivia ternyata juga jiplak dari film barat remaja She’s The Man yang diperankan Amanda Bynes. Cinderela Boy juga dari drama taiwan Hanazakarino Kimitachihe. Info via rina.
  • Sinetron Candy juga merupakan adaptasi/jiplakan komik/anime lawas berjudul Candy-Candy. Info via Ira.
  • Film Guruku Idolaku yang tayang di RCTI pukul 16.00 ceritanya mirip dengan kartun anime Gokusen. Beberapa sketsa Extravaganza ABG (yang sudah lama nggak beredar) persis dengan sketsa komedi All That di Nickelodeon. Info via Dita.
  • Kalau Anda bisa mengkonfirmasi dan/atau menambah daftar tersebut di atas, silakan kontak ke saya.

Bagaimana Sinetron Menjajah Indonesia


Pertanyaannya sekarang, mengapa sinetron bisa begitu meraja lela? Kalau menurut saya:
  • Masyarakat Indonesia secara umum belum bisa menilai mutu/kualitas suatu tayangan dengan akurat. Misalnya, banyak tayangan asing yang sangat laku di negara asalnya tetapi justru jeblok ratingnya ketika ditayangkan di Indonesia. Begitu juga sebaliknya.
  • Banyak masyarakat kita yang menonton televisi hanya untuk pleasure, menghibur diri. Apalagi kaum pria, yang kebanyakan menonton hanya untuk menghibur mata — selain mencari informasi dan tayangan olahraga (sepakbola).
  • Penonton dari strata kelas menengah atas yang “sulit dibohongi” oleh sinetron-sinetron murahan seperti Anda, mungkin lebih prefer untuk membaca, surfinginternet, menonton DVD, bermain console game, atau hang out sebagai sarana hiburan. Kalaupun menonton televisi, pasti menggunakan satelit/TV kabel yang pilihannya jauh lebih beragam dan berkualitas.
  • Ujung-ujungnya, sinetron akan kian diminati, permintaan pasar terus bertumbuh, dan pembodohan masal terus bergulir. Lingkaran setan yang tiada berujung.
Saya tidak bermaksud syirik dengan Raam Punjabi yang kian tajir karena dagangannya laris manis di pasaran. Saya juga tidak bermaksud menyalahkan orang-orang production house yang mungkin menyangka bahwa orang-orang kita tidak pernah menonton serial luar. Barangkali memang mereka berniat membuat karya bermutu, namun terpaksa harusrealistis dan mengikuti selera pasar.

Masalahnya, sinetron sebenarnya mengajarkan kita dengan hedonisme dan mengajak kita untuk bermimpi tentang gaya hidup yang serba wah. Lebih parah lagi, televisi ditonton mayoritas oleh kalangan kurang terpelajar, ibu-ibu rumah tangga, atau pembantu yang butuh waktu lama untuk menyadari bahwa mereka sedang dikibulin dengan impian kalangan atas.

Begitulah selera mereka. Mereka gampang terbuai dengan kemewahan, berkhayal menjadi orang kaya, bermimpi dipersunting pangeran kaya dan tampan, membayangkan memperistri wanita cantik dan seksi, memiliki rumah mewah dan mobil belasan, dan sebagainya.

Hasilnya, kebanyakan orang Indonesia lebih suka berkhayal. Anggun pernah menjawab “bermimpi” sebagai kunci sukses karirnya saat ini. Tapi put it into action-lah yang membuat perbedaan. Antara pemenang dan pecundang. Antara kesuksesan dan fantasi tak berujung.
Saya yakin Anda mungkin bisa melindungi dari serangan sinetron yang bertubi-tubi. Tapi bagaimana dengan jutaan penduduk Indonesia lainnya?

Bahaya Laten Sinetron


Sampai kapan fenomena ini bertahan? Sulit ditentukan. Selama jumlah penontonnya masih bejibun, selama production house masih produktif memproduksi (baca: menjiplak), dan sampai kita masih belum tersadarkan diri, fenomena ini masih akan berlangsung lama.

Yang jelas, kalau fenomena ini dibiarkan berlarut-larut, serial bagus dan membumi seperti Bajaj Bajuri atau Office Boy mungkin akan segera punah. Sinetron berkualitas seperti Dunia Tanpa Koma (DTK) bakal tak laku lagi. Tayangan berita seperti Liputan 6 dan Headline News mungkin akan segera dilikuidasi. Pembuat film/FTV indie mulai menggadaikan idealismenya. Divisi in-house production akan dimergerDan setiap televisi akan berlomba-lomba menayangkan sinetron setiap saat.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua yang menonton sinetron sama sekali tidak cerdas. Namun, sebelum perekonomian bangsa ini benar-benar pulih sehingga bisa menciptakan generasi intelek yang bisa menyadari bahwa dirinya sedang ditipu sinetron-sinetron tersebut, saya cuma bisa menyarankan, mari kita sama-sama untuk tidak menonton sinetron.