Kamis, 27 Oktober 2011

Siapa Bilang Kecanduan Pornografi Aman Dibanding Rokok?


Dampak dari kecanduan rokok yang terus menerus tidak hanya menyerang jantung dan paru-paru, tetapi juga bisa menyebabkan kerusakan struktur otak. Kerusakan yang sama juga dialami oleh orang-orang yang kecanduan seks dan pornografi.
Pada orang yang mengalami kecanduan, biasanya otak mengalami gangguan pada bagian yang mengatur reward atau rasa senang. Karena kecanduan dicirikan oleh perilaku yang berulang, maka otak yang berfungsi sebagai pusat memori atau ingatan juga akan terkena dampaknya.

Mekanisme ini terjadi baik pada kecanduan yang dipicu oleh zat-zat adiktif termasuk narkoba dan rokok, maupun stimulasi yang lain seperti seks dan pornografi. Makin lama dan makin sering mendapat stimulasi, maka otak akan mengalami damage atau kerusakan.

"Kecanduan yang terus menerus akan memberikan damage di otak. Sama seperti orang merokok," ungkap Dr Al Bachri Husin, SpKJ(K), psikiater adiksi dari RS Cipto Mangunkusumo dalam seminar Peran Neurosains dalam Mengembangkan Generasi Muda Bangsa Berkarakter di Menara Peninsula, Senin (24/10/2011).

Malahan menurut Dr Al Bachri, damage pada perokok tidak hanya terjadi di otak melainkan di seluruh tubuh. Nikotin dan ratusan jenis racun di dalam asap rokok bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, paru-paru dan organ lain termasuk organ-organ reproduksi.

Meski demikian, bukan berarti kecanduan pornografi lebih aman dibandingkan kecanduan rokok. Ketika otak mengalami kerusakan, maka perilaku seorang pecandu seks dan pornografi cenderung akan lebih sulit dikendalikan dan secara moral maupun sosial bisa meresahkan lingkungan.

Apapun stimulasi atau pemicunya, Dr Al Bachri menganggap kecanduan sama saja seperti penyakit kronis lainnya seperi diabetes dan hipertensi. Sebagai penyakit otak yang kronis atau menahun, kecanduan bisa kambuh meski sudah pernah sembuh sehingga terapinya harus berkelanjutan.

Untuk menyembuhkan kecanduan, sekedar menghindari stimulasi atau pemicunya saja biasanya tidak efektif. Statistik di seluruh dunia menunjukkan, kecanduan narkoba hanya 30 persen yang berhasil diatasi dengan cara abstinence atau menghindari pemicunya sedangkan sisanya akan kambuh lagi.

"Karena itulah ada program-program substitusi misalnya methadon sebagai pengganti putaw. Kalau kecanduannya susah disembuhkan, maka perilakunya saja yang kita ubah. Misalnya yang tadinya pakai jarum suntik, dengan methadon dia tidak lagi memakai jarum suntik," ungkap Dr Al Bachri.

SUMBER


Tidak ada komentar:

Posting Komentar